Rabu, 13 Januari 2010

masa depanku

ada manusia yang gagah berani yang mampu menantang masa depannya
yang tertantang akan apa yang akan tertimpa padanya
dia lah manusia kuat, yang menerjang ombak tanpa getir sedikitpun

namun ada juga manusia yang lemah
yang khawatir sekali terhadap masa depannya
dia khawatir dirinya tak akan kuat menyelesaikan semuanya
hingga akhirnya dia selalu menginginkan tetap berada pada zona tersebut
zona aman dalam rangkulan sebuah kesemuan
dia lah manusia yang serba ketakutan...

akhirnya manusia harus memilih,...menjadi siapa dia?
dia yang siap menerima masa depannya dan dengan penuh gairah menyongsong masa depannya
ataukah dia yang khawatir terhadap apa yang akan terjadi padsa dirinya setelah, terhadap masa depannya

mau tidak mau, suka tidak suka manusia akan mendapatkannya, selama nadi ini masih berdenyut

Jumat, 18 September 2009

diam

Kaum intelektual yang termarjinalkan pada sebuah masa. Masa yang sarat dengan kebebasan dan ketundukan pada materi. Masa yang tak lagi peduli apakah benar matahari terbit dari timur, masa ketika kaki dijadiakan indra pengecap

Pertahanan
Revolusi, revolusi,revolusi sampai mati
Bok goblok goblok ada mentri suka nyogok
Meng nyimeng nyimeng banyak orang pada gambreng

Kaum intelektual akankah bertahan dengan persepsi dan perasaan yang bertentangan, akankah terus pada garis lurus tanpa menoleh garis abstrak?

Tapi kaum intelektual lupa.
Bahwa kehancuran suatu peradaban bukan hanya terdiri dari orang2 yang bodoh saja tp kehancuran tercipta juga oleh kaun
Intelektual yang diam

Kenapa terlalu ego

Kenapa terlalu ego untuk mengakui bahwa kita lemah
Butuh suplemen untuk survive
Mengapa terlalu angkuh untuk berkaca bahwa kita adalah manusia biasa
Sama seperti mereka
Kenapa mereka tujuan kita
Bukan Dia yang maha Kuasa
Kenapa harus ada yang menangis karena pilihan
Bukankah pilihan itu pasti ada

Seperti apel merah terkena mentari sore
Indah penuh dengan ceria
Begitupun kehidupan yang dilewati
Megah, penuh dengan makna

dosa terdalam

Lendutan asa menarik lengan yang kokoh
Yang akan terdera oleh sebuah keimanan
Cakar pun menjadi kemayu
Dihinggapi lalat berlidah eksistensi

Diam sebuah dosa terdalam
Dalam lubang yang tak berdasar
Mengintip pada dunia yang nayta
Mengharu, mengempis
Dalam urutan mundur sang waktu

Mencoba meninggalkan kemunafikan
Bersama jeruji kamuflase diri

Egois... menjilati jiwa
Sarang lebah menjangkitiku
Hingga terperangkap dalam jalan menuju api

Seperti anak bangsa yang manggut2 pada negerinya
Seperti anak manusia yang sedang jatuh cinta
Seperti dunia tunduk pada nasibnya
Seperti aku yang mendekat pada sebuah
“keimanan” yang berirama