Selasa, 03 Januari 2012

MENGAPA UTANG LUAR NEGERI INDONESIA TERUS NAIK? (180,7 milyar dolar AS di tahun 2010 naik menjadi 214,5 milyar dolar AS di tahun 2011)


Setelah dikalkulasikan, tahun 2012, setiap anak yang baru lahir mendapat beban utang Rp 8 juta.....

Ada beberapa penyebab meningkatnya utang Luar negeri Indonesia secara umum yaitu:
1. Defisit Transaksi Berjalan (TB)
TB merupakan perbandingan antara jumlah pembayaran yang diterima dari luar negeri dan jumlah pembayaran ke luar negeri. Dengan kata lain, menunjukkan operasi total perdagangan luar negeri, neraca perdagangan, dan keseimbangan antara ekspor dan impor, pembayaran transfer.

Lima tahun sebelum krisis ekonomi (1992/1993 – 1996/1997) indonesia mengalami defisit TB masing-masing tiap tahun (jutaan) : $2,311; $2,740; $3,248; $6,757 dan $7,847. Maka untuk menutup defisit itu pemerintah melakukan pinjaman luar negeri.

Sementara pada 2010, transaksi berjalan surplus US$5,643 miliar dan 2009 transaksi berjalan surplus US$10,628 miliar. jika dilihat pada triwulan I 2011 transaksi berjalan surplus US$2,089 miliar. Pada triwulan II 2011, transaksi berjalan US$237 juta. Dan triwulan III surplus US$0,2 miliar dan triwulan IV diramalkan mengalami defisit menurut Gubernur Bank Indonesia.

Transaksi berjalan yang menurun tiap tahunnya, sebenarnya masih surplus, artinya seharusnya tidak perlu melakukan pinjaman utang. Tetapi ada peramalan-peramalan yang mengatakan triwulan kedepan defisit sehingga dibutuhkan utang pinjaman luar negeri, akhirnya indonesia kembali berhutang.

2. Meningkatnya kebutuhan investasi
Menurut Sunariyah (2003:4): “Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.”

Hampir setiap tahun Indonesia menghadapi delima invesment-saving gap. Menurut kordinator bapenas Armida Alisjahbana pada tahun 2011, jumlah dana tabungan: 12,84 triliun Sementara kebutuhan investasi Rp 2.458,6 triliun;

Dengan adanya gap, Hal ini mendorong meningkatnya pinjaman LN, terutama pinjaman sektor swasta. Di samping kelangkaan dana, meningkatnya utang LN juga didorong oleh perbedaan tingkat suku bunga.

3. Meningkatnya Inflasi
inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor . Laju inflasi mempengaruhi tingkat suku bunga, karena ekspektasi inflasi merupakan komponen suku bunga nominal. Tingkat inflasi oktober 2011 sebesar 0,32% lalu meningkat november 2011 menjadi 0,34% trand inflasi meningkat menyebabkan Bank Indonesia memangkas suku bunga bahkan sampai 50 yaitu suku bunga november 2011 sebesar 6%.

Dengan rendahnya suku bunga maka minat orang untuk berinvestasi rendah, maka pemerintah untuk memenuhi belanja negaranya melalui pinjaman luar negeri.

4. Struktur perekonomian tidak efisien -- dengan alat ukur ICOR
Incremental capital output ratio (ICOR) adalah rasio antara investasi di tahun yang lalu dengan pertumbuhan output (PDRB). ICOR mencapai 4,9 (1984 – 2011) yang seharusnya antara 3 – 3.5. Jadi ada pemborosan sekitar 30%, karena tidak efisien dalam penggunaan modal, maka memerlukan invetasi besar. Hal ini mendorong utang luar negeri.

ANALISIS PERSEKTIF EKONOMI POLITIK
Menurut Dr Muhammad Findi dosen ekonomi politik IPB (2011) dalam slide mata kuliah ekonomi politik utang disebutkan bahwa, kecenderungan trand utang luar negeri indonesia atau negara berkembang pada umumnya meningkat akibat pemerintah (dalam hal ini eksekutornya adalah dirjen pengelolaan utang) menjadikan utang sebagai skema rutin atau sering disebutkan dengan “jebakan utang”.

Politik utang luar negeri dari sudut pandang ekonomi politik ada dua, yaitu :
1. Menjadikan utang luar negeri skema rutin  “jebakan utang” , terjebak oleh debitor multilateral atau unilateral
2. Menjadikan utang sebagai tambahan / penutup kebutuhan  langkah darurat, jika langkah langkah strategis sudah dilakukan, namun masih kurang. Misal ketika sumber penerimaan dalam negeri yaitu salah satunya pajak dan laba BUMN.

Kecenderungan pemerintah negara berkembang, termasuk indonesia terjebak dengan skema neraca modal; masuknya arus modal sehingga tercipta privatisasi BUMN. Akhirnya dengan berhutang ketergantungan negara berkembang kepada investor asing semakin tinggi, hal ini akan menciptakan budaya rendah, hingga akhirnya produktivitas sumber daya ekonomi domestik rendah pula. Seharusnya prinsip politik utang luar negeri indonesia tidak boleh menjadikan utang sebagai solusi utama dalam defisitnya APN, namun seharusnya memposisikan utang luar negeri sebagai pelengkap atau solusi akhir dalam keputusan.

ANALISIS PERSPEKTIF ISLAM
Berbicara utang luar negeri tak bisa dipisahkan dari politik luar negeri suatu negara. Artinya, tidak hanya semata-mata dilihat dari sisi fiqih utang itu sendiri. Karena utang mengutang dalam syara boleh hukumnya, namun jika berbicara masalah utang luar negeri yang merupakan kebijakan suatu negara, hendaklah suatu negara memperhatikan kedaulatan negaranya atas semua kebijakan yang dilakukannya.

Menurut Farid wajidi seorang pengamat politik international, meminta bantuan negara-negara imperialis dalam bentuk apapun merupakan bunuh diri politik. Bantuan ekonomi berupa utang luar negeri telah digunakan oleh Barat sebagai alat intervensi kepentingan mereka di dunia Islam. Sebagai negara penerima bantuan IMF dan Bank Dunia, Indonesia harus tunduk kepada kebijakan liberal yang digariskan oleh Barat. Meskipun hal itu berarti “merampok” harta negara dan menambah derita rakyat. Dengan utang luar negeri ini sebuah negara terus menerus bergantung kepada asing. Beban bunga utang yang semakin menjulang membuat Indonesia seolah olah menjadi sapi perahan negara penjajah.

Yang harus dilakukan pemerintah adalah revitalisasi sumber pemasukan negara untuk mengisi defisitnya anggaran, misal stop privatisasi BUMN, eksploitasi barang tambang dll. Namun sekali lagi hal ini akan sulit dilaksanakan jika paradigma sistem ekonomi negara kita, masih menggunakan sistem ekonomi kapitalis yang menjadikan utang sebagai pondasi utama dalam pembangunan nasional.



kanti rahmillah
tugas kuliah ekonomi politik Dr Muhammad Findi

Sabtu, 26 November 2011

Refleksi 1 muharam 1432....


Ketika bertanya pada benak, tentang sesuatu yang mungkin banyak orang pertanyakan, saat itulah kebimbangan kembali lagi hinggap.apakah ini yang dinamakan ujian? Sering aku bersyukur atas ujian yang aq dapatkan dari penciptaku begitu “lancarnya”, hidupku datar saja, ketika kubandingkan dengan orang-orang sekitarku. Mungkin konflik yang pernah aku dapatkan seperlimanya dari konflik yang mereka dapatkan.
Sering kupertanyakan apakah juga artinya semua keimananku hanya pada batas ini?bukankah setiap ujian yang seorang hamba dapatkan sesuai dengan kadar imannya?terlalu abstrak sepertinya untuk aku pereteli hingga membentuk suatu makna.
Jadi singkatnya, seringkali aku bertanya apakah aku menjadi orang yang autis dalam setiap masalahku?apakah aku menjadi orang yang hanya memutari tingkatan tangga yang sama ?ibadahku, panjatan doaku?air mataku yang jatuh saat aku mengeluh pada NYA? Benarkah itu semua semata-mata kupersembahkan untuk penciptaku.
Merasa puas terhadap apa yang telah aku dapatkan?apakah itu perwujudan rasa syukur?ataukah perwujudan sebuah keputusasaan dalam proses pencapaian ambisiku?yang akhirnya menjadi klaim atas tugasku sebagai seorang manusia—berusaha.
Ketika ku amati teman2 sejawat, ku kagumi satu persatu, mereka sudah menjadi orang2 yang hebat, mereka sudah menjadi apa yang mereka impikan, sedangkan aku, aku masih tetap menjadi diriku 5 tahun yang lalu, aku masih menjadi diriku dengan segala kebimbanganku.
Ada sesosok yang akhir2 ini ingin aku menelisik lebih dalam seperti apa kehidupannya, dia membuatku iri, ia membuatku bertanya, ko bisa dia seperti itu?kepintarannya dalam berbicara?keramahannya dalam bertatakrama?prestasinya yang segudang?kesempatan2 emas yang dia dapatkan?sering aku bertanya, kenapa bukan aku yang mendapatkanny?kenapa semua bermuara pada dia?atau ini hanyalah sebuah fitrah?fitrah bahwa setiap diri manusia pasti merasakan kurang terhadap dirinya?
Robb...ternyata pemahamanku menjawab pertanyaan dan kegundahan ini, ,...ternyata aku terlalu faham untuk memeprtanyakan qodo ku .....

Kuberlindung kepadaMu dari godaan syaitan yang terkutuk.....

Kanti rahmillah

Sabtu, 22 Oktober 2011

analisis kampus

Analisis realitas kampus


Berbekal dari pembacaan realitas yang benar, maka ketika kita bicara kampus sebagai basis intelektual yang didalamnya berisikan orang2 yang haus dengan ilmu. Maka tak aneh jika basis pergerakan biasanya diawali dari kampus. Termasuk pemikiran2 kufur yang mereka coba cokolkan kepada kita, mereka tanamkan awalnya melalui kampus. Maka semua “pemain” menyadari bahwa kampuslah corong perubahan.
Semua faham hal tersebut, tak terkecuali musuh islam, mereka mencoba memandulkan potensi pemuda dengan menghembuskan al wahn kedalam jiwa2 pemuda. Mereka dengan sistematis merubah arah pandang pemuda2. Mereka memberikan definisi ”bermanfaat” hanya untuk dirinya,...secara agregat sdh bisa dikatakan yang mendominasi kaum intelektual skg ini adalah pemikiran egosentris, hanya memikirkan diri sendiri. Ketikapun mereka meneliti semata2 hy untuk prestise dan materi belaka. Ketika pun ada niat untuk kemaslahatan umat, itu jika kepentingan pribadinya sdh terpenuhi.
Mereka tidak sepenuhnya bersalah, karena sistemlah yang membuat mereka demikian, ada skenario besar untuk memandulkan potensi anak bangsa. Mahasiswa cenderung disibukan dengan hal2 teknis dalam belajarnya (tugas, laporan, )tanpa diajak berfikir hakikat dari ilmu yang dipelajari, dihembuskan enterpreunership yang akhirnya memalingkan mereka terhadap kenyataan bahwa merekalah tumpuan umat. Isu terorisme, radikalisme membuat mahasiswa phobia terhadap islam mabda, energi besarnya tertumpulkan dengan sajian2 televisi yang menumpulkan otak (band, film korea). Berfikir bahwa kuliah adalah rutinitas semata dan merupakan tahapan dari kehidupan yang selanjutnya akan diisi tahapan tersebut dengan bekerja, kaya, bersenang2 dll.
Pengajar disibukan dengan penelitian2 yang murahan, akhirnya menyebabkan kualitas mengajar menurun, dan berorientasi pada materi yang akan dia dapatkan dari penelitian. Menjadi dosen adalah profesi bukan lagi wujud pengabdian dia terhadap masyarakat, bukan lagi menjadi wujud syukur dia karena telah diberikan amanah (ilmu) yang harus di distribusikan kepada yang berhak. Sekali lagi ini bukan seratus persen kesalahan para dosen. Ada upaya jahat yang luar biasa yang sedang menggerogoti kita secara sistematis.
Jangankan berfikir untuk akhirat, berfikir tentang pertanggungjawaban mereka di akhirat, faham bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak saja mungkin tak melekat dalam nafas mereka. Apalagi jika berbicara kontribusi mereka terhadap umat, hal tersebuat sepertinya sudah jauh dari benak mereka.
Masyarakat kampus keliru memahami arah pandang kehidupannya (mafahim), masyarakat kampus menjadi individu-individu yang tak mengerti cara memandang kehidupan, tak mengetahui hakikat kehidupan- bahwa hidup semata-mata hanya untuk allah, tidak difahami dengan sebenar-benarnya. Tak memahami konsep islam adalah sebuah ideologi yang akan menuntun mereka dalam setiap langkahnya. Mereka tak menjadikan islam sebagai penyelesai masalah.
Termasuk juga standar hidupnya (maqoyis) adalah asas manfaat, yang menjadikan pilihan-pilihan yang dia ambil bersandarkan pada manfaat, belum lagi ditambah al wahn (cinta dunia takut mati) yang begitu mengakar belukar menjadikan mereka kebingungan. Yang tersodorkan di kampus adalah standar yang disistemkan,
Tentu saja qonaah (ketundukan) yang masih loyal kepada sistem, artinya kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh penguasa, seolah-olah itu adalah yang terbaik buat kita, walaupun realitas tersebut tidak terindra.
Akhirnya bisa kita simpulkan masyarakat kampus masih tejerat MMQ (mafahim, maqoyis, qonaah) sistem saat ini, ikatan penguasa(sistem) dan masyarakat kampus masih erat melekat.
Jika kita lihat sejarah, Daulah islam kuat karena pengurusan daulah terhadap warganya terkait dengan MMQ yang kuat, begitupun sebaliknya daulah mulai menuju kebawah tatkala pengurusan terhadap MMQ yang tidak seintensif ketika daulah khilafah masih kuat.
Cara agar MMQ yang terjalin antara sistem (penguasa) dan rakyat sekarang ini termasuk kampus, adalah MMQ non islam, MMQ sekuler kapitalis. Maka kita harus memutusnya (dorbul alaqoh) dengan cara kasful khutot (membongkar makar) pemikiran2 kufur yang membelenggu. Agar kita mampu mengupas pemikiran kufur maka kita harus faham realitas ide tersebut. Lalu cara dorbiul alaqoh lain dengan kifahul siyasi (perjuangan politik), gozwul fikr, thalabunusroh dll. Hal tersebut harus dilakukan secara masif dan cepat.Ombak besar dengan kecepatan yang luar biasa akan mampu mengubah daratan.
Selain aktivitas diatas harus pula mengopinikan MMQ Islam, sehingga putuslah MMQ mereka dengan sistem yang ada. Kemudian karena tabiatnya masyarakat adalah membutuhkan pemimpin maka syarikah saat itu sudah siap menggantikan kepemimpinan, syarikah siap membawa rakyat menuju gerbong kebahagiaan hakiki menuju MMQ yang sohih dengan menerapkan syariat islam dibawah naungan daulah khilafah Islamiyah.
Poin penting dari tulisan ini adalah kembalilah pada khitoh perjuangan, artinya ketika sebuah gerakan kebingungan dengan arah geraknya, maka kembalilah pada tsaqofah partai yang tentunya disarikan dari alquran dan assunah.
Fahami realitas dengan metode yang benar,sehingga tidak menjadikan realitas tersebut sumber hukum, setelah tergambar dengan jelas realitas tersebut, apapun hasilnya maka kembalikan pada khitohnya.
Realitas kampus demikian, ada MMQ civitas akademik (mahasiswa,dosen,birokrat) yang khas, yaitu MMQ kapitalis , maka yang kita lakukan putuskan MMQ civitas akademik dengan sistem melalui kontak masif, gozwul fikr, kasful khutot, kifahusiyasi, thalabunusroh dll. Hingga akhirnya putus hub mereka dengan sistem (penguasa) –terjadi dorbul alaqoh.
Dengan meminta pertolongan allah yang maha kuasa, yang mengetahui dibalik seluruh rahasia kehidupan, yang menjanjikan khilafah pasti tegak. Maka pengemban dakwah kembalilah pada hakikatnya seorang pengemban dakwah.
Taskif musrifah sangat dibutuhkan, karena inilah yang menjadi titik lahirnya para pengemban dakwah yang militan, lalu tak lupa struktur mengurusi kader yg menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan khitoh hizb.

Wallahualam bi sawab......

kanti rahmillah

realitas kampus....

TERBENTUKNYA SEBUAH REALITAS
(mengupas realitas kampus bagi aktivis pergerakan)


Sebuah realitas akan mampu tergambar dengan jelas di benak seseorang ketika dia serius dalam mengamatinya, serius dalam ikhtiyar untuk memahaminya. Semakin detil seseorang mengerahkan daya dan upayanya dalam mewujudkan gambaran realitas dalam benaknya, akan semakin tercipta pula gambaran realitas yang mendekati sempurna. Begitupun kampus, siapa saja yang menginginkan dibenaknya tergambar dengan jelas gambaran realitas kampus, maka dia harus serius dalam memahaminya.
Sebuah Realitas yang terserap pada benak akan semakin siap diolah menjadi sebuah pemikiran, tatkala sudah menjadi sebuah “model” yang baik . artinya gambaran realitas yang ada dibenak harus mampu menggambarkan realitas yang sesungguhnya. (sebuah model yang baik adalah model yang mampu menjelaskan dengan menyeluruh gambaran sebuah realitas). Semakin baik model, semakin tinggi tingkat akurasinya.
Sebelum kita membahas bagaimana metode membuat model yang baik? Pertama yang harus kita lakukan adalah memahami dengan benar hakikat berfikir. Karena seseorang yang memahami hakikat dari berfikir, dan tentunya metode berfikir, maka dia akan memposisikan realitas menjadi sebuah komponen berfikir, bukan semata sumber hukum.
maka syikh Taqiyudin annabhni dalam buku hakikat berfikir nya, mendefinisikan komponen berfikir kedalam 4 komponen, dimana ketika salah satu saja terabaikan, alias ada pengabaian dalam bentuk ketidakfahaman atau ketidakseriusan dalam memahaminya, maka tak akan sempurna hasilnya. Komponen tersebut adalah fakta, informasi seebelumnya, otak dan akal.
akhirnya, jika kita ejawantahkan pada sebuah pergerakan, sebuah gerakan akan mampu bergerak dengan arah yang benar, tatkala pada awalnya dia mampu memahami realitas yang terjadi. Dengan memahami realitas maka gerakan tersebut mampu menentukan arah gerakannya.
Dan untuk memahami realitas tersebut dibutuhkan indra untuk mengambilnya—untuk dijadikan sebuah model dalam benak. Semakin peka indra sebuah pergerakan, semakin mampu dia melangkah menuju pada keberhasilan cita2 nya. Kepekaan ini tentunya harus diasah, cara yang paling signifikan agar kepekaan indranya tajam, sebuah pergerakan harus mampu membenturkan diri dengan realitas tersebut. Bagaimana pun juga data primer akan mendekati kesempurnaan daripada data sekunder. Artinnya sebuah gerakan tersebut harus membenturkan dirinya dengan realitas. Daripada hanya sekedar menyimpulkan dari informasi2 yang ia dapat.
Tentunya jika kita berbicara sebuah gerakan islam maka dia terdiri dari individu2 yang memang dari niat ketergabungannya adalah untuk berdakwah. Dan ini harus benar2 dipastikan (karena banyak kasus ditemukan, bahwa ketergabungan seseorang menjadi bagian gerakan bukan karena dakwah, bahwa dakwah menjadi poros hidup tidaklah difahami dengan benar).
Individu2 gerakan harus dengan masif membenturkan dirinya dengan realitas. Caranya dengan kontak. Begitu banyak mekanisme mengontak, yang akan hanya menjadi sebuah teori belaka jika tidak dipraktekan. menghadiri event2 yang dibuat oleh masyarakat, agar kita mengetahui atmosfer realitas dan mampu membuat model dengan baik.
Hal ini jika diabaikan, akan mengakibatkan model yang bias, artinya jika benturan yang dilakukan tak sempurna akan terjadi pengambilan asumsi dalam setiap langkah gerakan tersebut.
Setelah kita faham realitas dan juga indra, maka tak boleh luput dari perhatian kita terkait dengan organ tempat kita berfikir, yaitu otak, tak usah kita kita hiraukan IQ, karena persentase nya hanya 10% (damiri mutohari). Lagi pula harus dipertanyakan pula keabsahan cara penghitungannya?namun yang pasti cukuplah para pengemban dakwah mengikuti sunah rosul-- Cara merawat otak: Makanan (toyib); habits (ex/ tidur diwaktu makruh—subuh , asar ; melakukan banyak hal mubah—nonton, ngobrol ngaler ngidul; dan tidak menjalankan amalan sunah yaumiyah lainny) inilah hal2 yang akhirnya membuat otak kita tumpul, para mujtahid, ulama, mereka senantiasa memperhatikan hal2 kecil dalam setiap hidupnya. Apakah sudah habits nya, makannya sesuai dgn rosul? karena kepastian itu sudah cukup untuk menggambarkan apakah kinerja otak kita optimal dalam kinerjanya.
Terakhir adalah maqlumat tsabiqoh/informasi sebelumnya. Adalah sebuah kecerobohan yang luar biasa jika para pengemban dakwah bertindak tanpa maklumat tsabiqoh. Perbanyak maklumat tsabiqoh dengan mutatabi realitas, dan yang harus digarisbawahi adalah mempertajam tsaqofah gerakan. Bagaiman bisa seorang pengemban dakwah mampu merealisasikan cita2 harokah jika mafhum cara bergerak pun belum mendalam, tidak tajam, setumpul dan seringan batu apung.
Maka dibutuhkan taskif yang intensif, taskif yang berkualitas, taskif yang terjadi didalamnya talqiyan fikriyan. Tujuan taskif adalah menciptakan individu yang bersyaksiyah islam, menjadikan individu yang menjadi mufakirun siyasiyun, siasiyun mufakirun, dan menanamkan karakteristik menjadi pengemban dakwah. Sehingga dari sana lahir para pengemban dakwah yang militan.
Pendek kata ketika gambaran realitas kita sempurna karena kepekaan indra kita, terolah bersama dengan tsaqofah dan maklumat yang mendalam, tak lupa organ tempat mengolah yaitu otak haruslah dalam kondisi yang optimal, maka akan terlahir darinya sebuah pemikiran yang muhadadah, pemikiran yang mendalam tentang sesuatu. Dari hasil pemikiran itulah subuah gerakan dapat merumuskan langkah dengan cara2 yang mampu menghantarkan pada cita2 gerakan, sebuah gerakan akan mampu merumuskan masalah, dan mencari jalan keluar dengan tuntuna syara. Tak ada lagi asumi dan kebingunan dalam bertindak. Yang ada adalah sebuah optimisme tentang keberhasilan cita2 gerakan.


kanti rahmillah