Sabtu, 22 Oktober 2011

analisis kampus

Analisis realitas kampus


Berbekal dari pembacaan realitas yang benar, maka ketika kita bicara kampus sebagai basis intelektual yang didalamnya berisikan orang2 yang haus dengan ilmu. Maka tak aneh jika basis pergerakan biasanya diawali dari kampus. Termasuk pemikiran2 kufur yang mereka coba cokolkan kepada kita, mereka tanamkan awalnya melalui kampus. Maka semua “pemain” menyadari bahwa kampuslah corong perubahan.
Semua faham hal tersebut, tak terkecuali musuh islam, mereka mencoba memandulkan potensi pemuda dengan menghembuskan al wahn kedalam jiwa2 pemuda. Mereka dengan sistematis merubah arah pandang pemuda2. Mereka memberikan definisi ”bermanfaat” hanya untuk dirinya,...secara agregat sdh bisa dikatakan yang mendominasi kaum intelektual skg ini adalah pemikiran egosentris, hanya memikirkan diri sendiri. Ketikapun mereka meneliti semata2 hy untuk prestise dan materi belaka. Ketika pun ada niat untuk kemaslahatan umat, itu jika kepentingan pribadinya sdh terpenuhi.
Mereka tidak sepenuhnya bersalah, karena sistemlah yang membuat mereka demikian, ada skenario besar untuk memandulkan potensi anak bangsa. Mahasiswa cenderung disibukan dengan hal2 teknis dalam belajarnya (tugas, laporan, )tanpa diajak berfikir hakikat dari ilmu yang dipelajari, dihembuskan enterpreunership yang akhirnya memalingkan mereka terhadap kenyataan bahwa merekalah tumpuan umat. Isu terorisme, radikalisme membuat mahasiswa phobia terhadap islam mabda, energi besarnya tertumpulkan dengan sajian2 televisi yang menumpulkan otak (band, film korea). Berfikir bahwa kuliah adalah rutinitas semata dan merupakan tahapan dari kehidupan yang selanjutnya akan diisi tahapan tersebut dengan bekerja, kaya, bersenang2 dll.
Pengajar disibukan dengan penelitian2 yang murahan, akhirnya menyebabkan kualitas mengajar menurun, dan berorientasi pada materi yang akan dia dapatkan dari penelitian. Menjadi dosen adalah profesi bukan lagi wujud pengabdian dia terhadap masyarakat, bukan lagi menjadi wujud syukur dia karena telah diberikan amanah (ilmu) yang harus di distribusikan kepada yang berhak. Sekali lagi ini bukan seratus persen kesalahan para dosen. Ada upaya jahat yang luar biasa yang sedang menggerogoti kita secara sistematis.
Jangankan berfikir untuk akhirat, berfikir tentang pertanggungjawaban mereka di akhirat, faham bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak saja mungkin tak melekat dalam nafas mereka. Apalagi jika berbicara kontribusi mereka terhadap umat, hal tersebuat sepertinya sudah jauh dari benak mereka.
Masyarakat kampus keliru memahami arah pandang kehidupannya (mafahim), masyarakat kampus menjadi individu-individu yang tak mengerti cara memandang kehidupan, tak mengetahui hakikat kehidupan- bahwa hidup semata-mata hanya untuk allah, tidak difahami dengan sebenar-benarnya. Tak memahami konsep islam adalah sebuah ideologi yang akan menuntun mereka dalam setiap langkahnya. Mereka tak menjadikan islam sebagai penyelesai masalah.
Termasuk juga standar hidupnya (maqoyis) adalah asas manfaat, yang menjadikan pilihan-pilihan yang dia ambil bersandarkan pada manfaat, belum lagi ditambah al wahn (cinta dunia takut mati) yang begitu mengakar belukar menjadikan mereka kebingungan. Yang tersodorkan di kampus adalah standar yang disistemkan,
Tentu saja qonaah (ketundukan) yang masih loyal kepada sistem, artinya kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh penguasa, seolah-olah itu adalah yang terbaik buat kita, walaupun realitas tersebut tidak terindra.
Akhirnya bisa kita simpulkan masyarakat kampus masih tejerat MMQ (mafahim, maqoyis, qonaah) sistem saat ini, ikatan penguasa(sistem) dan masyarakat kampus masih erat melekat.
Jika kita lihat sejarah, Daulah islam kuat karena pengurusan daulah terhadap warganya terkait dengan MMQ yang kuat, begitupun sebaliknya daulah mulai menuju kebawah tatkala pengurusan terhadap MMQ yang tidak seintensif ketika daulah khilafah masih kuat.
Cara agar MMQ yang terjalin antara sistem (penguasa) dan rakyat sekarang ini termasuk kampus, adalah MMQ non islam, MMQ sekuler kapitalis. Maka kita harus memutusnya (dorbul alaqoh) dengan cara kasful khutot (membongkar makar) pemikiran2 kufur yang membelenggu. Agar kita mampu mengupas pemikiran kufur maka kita harus faham realitas ide tersebut. Lalu cara dorbiul alaqoh lain dengan kifahul siyasi (perjuangan politik), gozwul fikr, thalabunusroh dll. Hal tersebut harus dilakukan secara masif dan cepat.Ombak besar dengan kecepatan yang luar biasa akan mampu mengubah daratan.
Selain aktivitas diatas harus pula mengopinikan MMQ Islam, sehingga putuslah MMQ mereka dengan sistem yang ada. Kemudian karena tabiatnya masyarakat adalah membutuhkan pemimpin maka syarikah saat itu sudah siap menggantikan kepemimpinan, syarikah siap membawa rakyat menuju gerbong kebahagiaan hakiki menuju MMQ yang sohih dengan menerapkan syariat islam dibawah naungan daulah khilafah Islamiyah.
Poin penting dari tulisan ini adalah kembalilah pada khitoh perjuangan, artinya ketika sebuah gerakan kebingungan dengan arah geraknya, maka kembalilah pada tsaqofah partai yang tentunya disarikan dari alquran dan assunah.
Fahami realitas dengan metode yang benar,sehingga tidak menjadikan realitas tersebut sumber hukum, setelah tergambar dengan jelas realitas tersebut, apapun hasilnya maka kembalikan pada khitohnya.
Realitas kampus demikian, ada MMQ civitas akademik (mahasiswa,dosen,birokrat) yang khas, yaitu MMQ kapitalis , maka yang kita lakukan putuskan MMQ civitas akademik dengan sistem melalui kontak masif, gozwul fikr, kasful khutot, kifahusiyasi, thalabunusroh dll. Hingga akhirnya putus hub mereka dengan sistem (penguasa) –terjadi dorbul alaqoh.
Dengan meminta pertolongan allah yang maha kuasa, yang mengetahui dibalik seluruh rahasia kehidupan, yang menjanjikan khilafah pasti tegak. Maka pengemban dakwah kembalilah pada hakikatnya seorang pengemban dakwah.
Taskif musrifah sangat dibutuhkan, karena inilah yang menjadi titik lahirnya para pengemban dakwah yang militan, lalu tak lupa struktur mengurusi kader yg menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan khitoh hizb.

Wallahualam bi sawab......

kanti rahmillah

realitas kampus....

TERBENTUKNYA SEBUAH REALITAS
(mengupas realitas kampus bagi aktivis pergerakan)


Sebuah realitas akan mampu tergambar dengan jelas di benak seseorang ketika dia serius dalam mengamatinya, serius dalam ikhtiyar untuk memahaminya. Semakin detil seseorang mengerahkan daya dan upayanya dalam mewujudkan gambaran realitas dalam benaknya, akan semakin tercipta pula gambaran realitas yang mendekati sempurna. Begitupun kampus, siapa saja yang menginginkan dibenaknya tergambar dengan jelas gambaran realitas kampus, maka dia harus serius dalam memahaminya.
Sebuah Realitas yang terserap pada benak akan semakin siap diolah menjadi sebuah pemikiran, tatkala sudah menjadi sebuah “model” yang baik . artinya gambaran realitas yang ada dibenak harus mampu menggambarkan realitas yang sesungguhnya. (sebuah model yang baik adalah model yang mampu menjelaskan dengan menyeluruh gambaran sebuah realitas). Semakin baik model, semakin tinggi tingkat akurasinya.
Sebelum kita membahas bagaimana metode membuat model yang baik? Pertama yang harus kita lakukan adalah memahami dengan benar hakikat berfikir. Karena seseorang yang memahami hakikat dari berfikir, dan tentunya metode berfikir, maka dia akan memposisikan realitas menjadi sebuah komponen berfikir, bukan semata sumber hukum.
maka syikh Taqiyudin annabhni dalam buku hakikat berfikir nya, mendefinisikan komponen berfikir kedalam 4 komponen, dimana ketika salah satu saja terabaikan, alias ada pengabaian dalam bentuk ketidakfahaman atau ketidakseriusan dalam memahaminya, maka tak akan sempurna hasilnya. Komponen tersebut adalah fakta, informasi seebelumnya, otak dan akal.
akhirnya, jika kita ejawantahkan pada sebuah pergerakan, sebuah gerakan akan mampu bergerak dengan arah yang benar, tatkala pada awalnya dia mampu memahami realitas yang terjadi. Dengan memahami realitas maka gerakan tersebut mampu menentukan arah gerakannya.
Dan untuk memahami realitas tersebut dibutuhkan indra untuk mengambilnya—untuk dijadikan sebuah model dalam benak. Semakin peka indra sebuah pergerakan, semakin mampu dia melangkah menuju pada keberhasilan cita2 nya. Kepekaan ini tentunya harus diasah, cara yang paling signifikan agar kepekaan indranya tajam, sebuah pergerakan harus mampu membenturkan diri dengan realitas tersebut. Bagaimana pun juga data primer akan mendekati kesempurnaan daripada data sekunder. Artinnya sebuah gerakan tersebut harus membenturkan dirinya dengan realitas. Daripada hanya sekedar menyimpulkan dari informasi2 yang ia dapat.
Tentunya jika kita berbicara sebuah gerakan islam maka dia terdiri dari individu2 yang memang dari niat ketergabungannya adalah untuk berdakwah. Dan ini harus benar2 dipastikan (karena banyak kasus ditemukan, bahwa ketergabungan seseorang menjadi bagian gerakan bukan karena dakwah, bahwa dakwah menjadi poros hidup tidaklah difahami dengan benar).
Individu2 gerakan harus dengan masif membenturkan dirinya dengan realitas. Caranya dengan kontak. Begitu banyak mekanisme mengontak, yang akan hanya menjadi sebuah teori belaka jika tidak dipraktekan. menghadiri event2 yang dibuat oleh masyarakat, agar kita mengetahui atmosfer realitas dan mampu membuat model dengan baik.
Hal ini jika diabaikan, akan mengakibatkan model yang bias, artinya jika benturan yang dilakukan tak sempurna akan terjadi pengambilan asumsi dalam setiap langkah gerakan tersebut.
Setelah kita faham realitas dan juga indra, maka tak boleh luput dari perhatian kita terkait dengan organ tempat kita berfikir, yaitu otak, tak usah kita kita hiraukan IQ, karena persentase nya hanya 10% (damiri mutohari). Lagi pula harus dipertanyakan pula keabsahan cara penghitungannya?namun yang pasti cukuplah para pengemban dakwah mengikuti sunah rosul-- Cara merawat otak: Makanan (toyib); habits (ex/ tidur diwaktu makruh—subuh , asar ; melakukan banyak hal mubah—nonton, ngobrol ngaler ngidul; dan tidak menjalankan amalan sunah yaumiyah lainny) inilah hal2 yang akhirnya membuat otak kita tumpul, para mujtahid, ulama, mereka senantiasa memperhatikan hal2 kecil dalam setiap hidupnya. Apakah sudah habits nya, makannya sesuai dgn rosul? karena kepastian itu sudah cukup untuk menggambarkan apakah kinerja otak kita optimal dalam kinerjanya.
Terakhir adalah maqlumat tsabiqoh/informasi sebelumnya. Adalah sebuah kecerobohan yang luar biasa jika para pengemban dakwah bertindak tanpa maklumat tsabiqoh. Perbanyak maklumat tsabiqoh dengan mutatabi realitas, dan yang harus digarisbawahi adalah mempertajam tsaqofah gerakan. Bagaiman bisa seorang pengemban dakwah mampu merealisasikan cita2 harokah jika mafhum cara bergerak pun belum mendalam, tidak tajam, setumpul dan seringan batu apung.
Maka dibutuhkan taskif yang intensif, taskif yang berkualitas, taskif yang terjadi didalamnya talqiyan fikriyan. Tujuan taskif adalah menciptakan individu yang bersyaksiyah islam, menjadikan individu yang menjadi mufakirun siyasiyun, siasiyun mufakirun, dan menanamkan karakteristik menjadi pengemban dakwah. Sehingga dari sana lahir para pengemban dakwah yang militan.
Pendek kata ketika gambaran realitas kita sempurna karena kepekaan indra kita, terolah bersama dengan tsaqofah dan maklumat yang mendalam, tak lupa organ tempat mengolah yaitu otak haruslah dalam kondisi yang optimal, maka akan terlahir darinya sebuah pemikiran yang muhadadah, pemikiran yang mendalam tentang sesuatu. Dari hasil pemikiran itulah subuah gerakan dapat merumuskan langkah dengan cara2 yang mampu menghantarkan pada cita2 gerakan, sebuah gerakan akan mampu merumuskan masalah, dan mencari jalan keluar dengan tuntuna syara. Tak ada lagi asumi dan kebingunan dalam bertindak. Yang ada adalah sebuah optimisme tentang keberhasilan cita2 gerakan.


kanti rahmillah

Mampukah Bank Syariah Menjadi Solusi di Tengah Sistem Neolib?

Seperti yang sudah diramalkan para ekonom, krisis moneter yang terjadi di tahun 1997 sampai krisis dunia tahun 2008 menyeret indonesia menuju krisis ekonomi yang cukup signifikan. Terjadi inflasi besar-besaran, yang menyebabkan melemahnya nilai rupiah. Hal ini secara signifikan dirasakan rakyat dengan melambungnya harga-harga barang termasuk didalamnya kebutuhan pokok.
Bank-bank penopang perekonomian negeri ini berjatuhan, pemerintah harus merogoh kocek ratusan triliun (kasus BLBI saja pemerintah harus kehilangan 650 triliun). Ditengah bank-bank konvensional koleps, bank syariah tetap kuat dan bertahan menjalani krisis tersebut. Sejak saat itulah wacana ekonomi islam semakin digandrungi, terutama dikampus-kampus yang memiliki fakultas ekonomi, termasuk IPB yang sekarang memiliki program studi ekonomi syariah.
Alasan utama mengapa bank syariah yang terkenal dengan sistem non riba plus zakat relatif lebih kuat dibanding bank konvensional, karena Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya, sedangkan bank kovensional justru menopangi hidupnya dengan bunga. Dan kita tahu suku bunga berpengaruh positif terhadap inflasi, sehingga sangat wajar bank konvensional rentan terhadap krisis.
Namun pertanyaannya sekarang adalah, apakah bank syariah yang landasannya berdasarkan alquran dan assunah mampu bertahan di sistem yang ribawi ini? Jika kita melihat arah kebijakan ekonomi negara kita, yang cenderung mengadopsi sistem ekonomi neoliberalisme yang bertumpu pada utang dan investasi pada pertumbuhan perekonominya. Maka kita bisa melihat begitu kontrasnya dengan ekonomi islam yang melarang ada aktifitas riba (utang dan investasi ala neolib pasti mengandung suku bunga, artinya sistem ini berbasis ribawi).
Lantas bagaimana fenomena bank-bank syariah yang menjamur sekarang ini? Apakah mampu bank-bank tersebut murni berbasis non ribawi? Realitas yang ada mengatakan bahwa akan sulit bank syariah hidup berdampingan dengan bank konvensional, akhirnya bank-bank syariah jika ingin hidup haruslah menyesuaikan diri maka merekapun terlibat riba, walaupun istilah riba sudah dimodifikasi kedalam istilah yang samar, bahkan tidak sedikit alasan keberadaan bank syariah hanya merupakan trand permintaan pasar saja yang meningkat.
jika ekonomi Syariah dipandang seperti itu, maka ekonomi Syariah hidup berdampingan dengan ekonomi ribawi sebagai subordinasi Kapitalisme. Misalnya, manakala krisis keuangan global telah memukul dengan keras lembaga-lembaga keuangan ribawi di seluruh dunia, maka ekonomi Syariah dipandang sebagai pasar alternatif di dalam menggali laba.
Tentunya dalam hal ini, akan sulit pula ekonomi syariah menjadi solusi atas permasalahan ekonomi bangsa ini. Eksploitasi yang terjadi akibat utang luar negeri dan juga investasi pemodal asing adalah konsekuensi atas diterapkannya sistem neoliberlisme di negara kita. Secara otomatis jika kita mengetahui bahwa secara agregat, penyebab terpuruknya indonesia adalah eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam kita, maka solusi atas permasalahan ini agar tuntas adalah perubahan sistem. Bukan hanya sekedar resuffle kabinet yang hanya membuang uang negara tanpa ada konsep yang jelas menuju perubahan nasib bangsa. “menteri berubah, rakyat tetap makan teri” hade line sebuah media masa, cukup menggambarkan kesadaran rakyat akan sia-sianya resuffle kabinet.
Terakhir, dan ini adalah jawaban atas judul diatas, mampukah bank syariah menjadi solusi atas kemiskinan, kebodohan, kurang gizi, korupsi, kriminalitas, amoral, dan semua yang melanda negeri ini? Jawabannya iya, jika negeri ini terbebas dari kukungan sistem ekonomi neoliberalisme, tetapi jangan berharap negeri ini akan membaik apapun instrumen kebijakannya, apapun konsep bank nya jika masih menggunakan sistem yang sama. Jika memang bank syariah mampu menjadi solusi maka alternatif perubahan sistem menjadi sistem islam mutlak dilakukan.

kanti rahmillah

Rabu, 20 Juli 2011

tugas ulasan

MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER MELALUI JALUR SUKU BUNGA DAN NILAI TUKAR


ULASAN TESIS

Tesis dengan judul “Analisis Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Melalui Jalur Suku Bunga dan Nilai Tukar” Ditulis oleh Ahmad Basith 2007, secara umum bertujuan untuk menganalisis mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia, khususnya suku bunga dan nilai tukar. Tujuanumum tersebut dicapai melalui tahapan pencapaian tujuan khusus sebagai berikut: (1) Menganalisis jalur suku bunga dan nilai tukar dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter dan pengaruhnya terhadap beberapa indikator makroekonomi, (2) menentukan jalur transmisi kebijakan moneter yang paling berpengaruh.

Data yang digunakan adalah data time series dari bulan Januari 1993 sampai Desember 2004. Dan untuk mencukupi data deret waktu (time series data) maka deret waktunya menggunakan waktu bulanan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ekonometrika dengan model Vector Error Correction Model (VECM).
Tesis terdiri dari cover judul, lembar pernyataan, abstrak, lembar pengesahan, riwayat hiidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, 6 bab, daftar pustaka dan lampiran. Ulasan tesis terdiri dari tiga aspek yaitu: (1) Sistematika; (2) Konsistensi; dan (3) Substansi.

1.SISTEMATIKA

Penulisan tesis Ahmad Basith (2007) secara umum sudah mengikuti sistematika penulisan tesis IPB. 6 Bab dalam tesis sudah disusun secara sistematis dimulai dari bab pertama yaitu pendahuluan yang menjabarkan latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan ruang lingkup penelitian. Bab kedua merupakan tinjauan pustaka yang menjabarkan subbab-subbab yaitu kebijakan moneter, kebijakan moneter di Indonesia dan tinjauan studi terdahulu.

Bab ketiga merupakan kerangka pemikiran teoritis yang dijabarkan dalam keterkaitan sektor moneter dan sektor riil, teori moneter klasik, teori moneter keynesian, pasar barang dan pasar uang, permintaan agregat dan penawaran agregat dalam perekonomian terbuka, mekanisme transmisi kebijakan moneter dan model vector autoregression. Bab keempat merupakan metode penelitian yang dijabarkan dalam jenis dan sumber data, metode analisis. Bab kelima adalah hasil dan pembahasan yang terdiri dari pengujian awal, pengujian lag Optimal dan Uji Kointegrasi, Analisis Vector error Correction Model , mekanisme transmisi moneter melalui jalur suku bunga, mekanisme transmisi moneter melalui jalur nilai tukar, dan ringkasan pembahasan. Bab keenam adalah kesimpulan, implikasi kebijakan dan saran untuk penelitian lebih lanjut.

2. KONSISTENSI

Ahmad Basith (2007) sudah konsisten secara substansi dimulai dari pendahuluan sampai dengan kesimpulan dan saran. Latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penelitian secara konsisten dilanjutkan dengan pembahasan, kesimpulan dan saran yang sesuai. tesis secara konsisten membahas dalam ruang lingkup yang bersifat nasional dengan menganalisis mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga dan nilai tukar.

Konsistensi dalam penulisan masih terdapat beberapa kesalahan, diantaranya :
1)Abstrak masih ditulis lebih dari 1 paragraf
2)Terdapat penulisan yang tidak konsisten, seperti :
a.Penulisan makroekonomi, tetapi masih terdapat penulisan makro ekonomi hal 6 pada Abstrak
3)Terdapat kesalahan penulisan, seperti :
a.Grange, seharusnya Grange . (Halaman 52)
b.Lag, seharusnya Lag. (Halaman55)
c Eviewss seharusnya Eviewss (halaman 55)

1.SUBSTANSI

Ulasan substansi disertasi secara khusus meliputi ulasan mengenai substansi judul, abstrak, 6 bab, daftar pustaka dan lampiran yaitu sebagai berikut :

1)Judul
Judul sudah memberikan gambaran yang jelas bagi pembaca dan dapat menerangkan penelitian apa yang dibahas dalam tesis, namun judul belum menggambarkan metode apa yang digunakan peneliti dalam tesisnya.

2) Abstrak
Abstrak sudah memberikan gambaran singkat mengenai keseluruhan isi tesis, karena isi abstrak menjabarkan latar belakang, tujuan, metode dan kesimpulan, sehingga pembaca dapat dengan ringkas mengetahui point dari penelitian secara keseluruhan. Namun abstrak terdiri dari 3 paragraf padahal aturan penulisan abstrak mengharuskan abstrak dalam 1 paragraf.

3)Bab I. Pendahuluan
Pendahuluan sudah ditulis secara sistematis yaitu terdiri dari : (1) Latar belakang, (2) Perumusan masalah, (3) Tujuan penelitian, (4) Kegunaan penelitian dan (5) Ruang lingkup penelitian.Secara substansi latar belakang yang diuraikan penulis sudah cukup baik, namun ada beberapa hal terkait substansinya yang sedikit kurang, yaitu:

(1) penulis kuang memberikan fakta (data), sehingga statment nya cenderung terkesan “gosip” seperti pada hal 1, “...kondisi makroekonomi dalam beberapa tahun membaik, tercermin dari laju inflasi, stabilnya nilai tukar, dan turunnya suku bunga....” . tidak ada data yang mendukung statment tersebut.

(2)Penulis tidak menjabarkan kondisi perekonomian Indonesia sebelum krisis, padahal identifikasi awal bahwa salah satu penyebab lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan Asia lainnya yang terkena krisis adalah melemahnya saluran kredit perbankan pasca krisis 1997. Padahal faktor Melemahnya kredit dipengaruhi besar oleh nilai tukar dan suku bunga.

Perumusan masalah secara substansi sudah sesuai dengan fenomena yang terjadi di Indonesia terkait dengan mekanisme transmisi kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Rumusan masalah dibuat menjadi 2 pertanyaan yang mengacu pada uraian permasalahan.

Tujuan penelitian terdiri dari 2 poin, yang sesuai dengan rumusan masalah, kegunaan penelitian sudah menjelaskan apa saja kegunaan dari dilakukannya penelitian pada tesis bagi bank Indonesia, namun penulis tidak menjelaskan kegunaan tesis secara umum, kegunaan bagi masyarakat, civitas kampus, orang yang terlibat dan bahkan kegunaan bagi penulisnya sendiri.Adapun ruang lingkup penelitian dalam tesis ini, penulis tidak mencantumkan batasan-batasan yang jelas dalam ruang lingkup tesis ini.

4)Bab II. Tinjauan Pustaka

Bab ini merupakan tinjauan pustaka yang menjelaskan pengertian dan kondisi kebijakan moneter secara umum, lalu menjelaskan kondisi kebijakan moneter di Indonesia serta menjelaskan hasil dari studi terdahulu.

5)bab III Kerangka Pemikiran Teoritis
Bab ini terdiri dari 7 subbab. Subbab pertama yang merupakan pengantar subbab-subbab setelahnya menjelaskan keterkaitan sektor moneter dan sektor riil. Subbab kedua menjelaskan teori moneter klasik yang terfokus pada pembahasan teori kuantitas uang dan efektifitas kebijakan moneter. Subbab ketiga menjelaskan teori moneter keynesian yang terfokus pada pembahasan permintaan uang untuk transaksi, spekulasi, total dan juga efektifitas kebijakan moneter ala keynesian. Subbab keempat menjelaskan pasar barang dan pasar uang. Subbab kelima menjelaskan permintaan dan penawaran agregat dalam perekonomian terbuka. Subbab keenam menjelaskan tentang mekanisme transmisi kebijakan moneter yang dibatasi hanya membahas jalur suku bunga, jalur nilai tukar dan jalur kredit. Subbab terakhir menjelaskan apa itu model Vector Autoregression.
Subbab ini menjelaskan awal mula dikembangkanya VAR bahwa VAR merupakan reaksi terhadap kegagalan modal besar makroekonomi dalam mengestimasi situasi perekonomian era 1970-an. Sulitnya membedakan antara variabel ensdogen dan eksogen membuat Sims

(penemu VAR) mencari model lain.
Disampaikan pula, VAR merupakan kelanjutan dari kritik moneteris terhadap Keynesian, artinya VAR dikembangkan atas dasar kritik terhadap model-model besar tersebut dan VAR menawarkan model yang sederhana dan menggunakan jumalah variabel yang minimalis dengan variabel independennya adalah lag yang semuanya variabel endogen. Lalu VAR pun merupakan kelanjutan dari uji kausalitas Granger.

VAR pun menuai kritik, diantaranya adalah sifatnya ateoritis. Maksudnya dalam analisis VAR interpretasi terbatas pada perilaku historis data karena tekanannya lebih pada analisis peramalan dan harus dilakukan identifikasi restriksi.
Dalam tesis pun dijelaskan bahwa VAR adalah suatu sistem persamaan yang memperlihatkan setiap variabel sebagai fungsi dari konstanta dan nilai lag dari variabel itu sendiri serta lag dari peubah lain yang ada dalam sistem.
VAR dengan ordo p dan n buah variabel tak bebas pada waktu ke-t dapat dimodelkan sebagai berikut:

Yt = A0 +A1Yt-1 + A2Yt-2+ ApYt-p + εt

Dimana:
Yt = vektor peubah tak bebas (Yt.1 ,Yt.2, Yn.t ) berukuran n x 1
A0 = vektor intersep berukuran nx1
Ai = matrik parameter berukuran n x 1
εt = vektor sisaan (ε1t , ε2t , εnt ) berukuran n x 1

Asumsi yang harus dipenuhi dalam analisis VAR adalah semua variabel tak bebas bersifat stasioner dan semua sisaan bersifat White noise, yaitu memiliki rataan nol, ragam konstan, dan diantara variabel tak bebas tidak ada korelasi. Untuk menentukan kestasioneran data maka terlebih dahulu data akan diuji dengan menggunakan uji Augmanted Dickey Fuller (ADF).

6)Bab IV. Metode Penelitian
Metode penelitian terdiri dari 2 subbab : (1) Jenis dan sumber data dan (2) Metode analisis, adapun metode analisis terbagi lagi menjadi (1) Uji akar Unit (2) Pemilihan Ordo Model Vector Autoregression (3) Uji Kointegrasi (4) Estimasi model Error Correction Model (4) Uji kausalitas (5) fungsi impuls Respon dan (6) Dekompososi Varian. Dengan demikian metode penelitian belum tersusun secara sistematis.

Secara substansi, penulis sudah sangat jelas menyebutkan jenis dan sumber data, penulis sudah mendeskripsikannya dengan tabel, sumber data berasal dari BI, IFS dan BPS danm jenis datanya adalah data sekunder Timeseries dari januari 1993 sampai desember 2004.

Adapun Analisis dilakukan melalui 7 tahap yaitu yang pertama pengujian stasioneritas atau unit root masing-masing variabeal dengan menggunakan ADF setelah itu pemilihan order model VAR (lag optimum) dengan Schmardz Information Criterion, pengujian keterkaitan kointegrasi diantara variabel dalam Xt dengan menggunakan Johansen reduced rank test ,setelah itu dilakukan estimasi secara over identifying cointegrating VAR dengan menggunakan restriksi berdasar apriori teoritis, estimasi vector error correction model (VECM) berdasarkan cointegrating VAR, selanjutnya mencari fungsi respon terhadap shock (Impulse Response Function), dan setelah semua selesai maka dilakukan berbagai shock dalam menjelaskan variabelitas variabel tertentu melalui dekomposisi varian (Forecast Error Variance Decomposition).
Pengolahan data dilakukan menggunakan bantuan perangkat lunak Eviews versi 4.1. artinya penulis sudah cukup jelas menggambarkan metode analisis yang digunakannya.
Dalam tesis pun digambarkan dengan detil pertahap sehingga mempermudah pembaca untuk langsung mengerti maksud metoda tersebut. Uji akar unit untuk melihat kestasioneran data dijelaskan dengan apik. Disana dikatakan dalam analisis timeseries, stasioneritas data menjadi isu terutama terkait dengan permasalahan spurious regression. Jika variabel mengandung akar unit atau tidak stasioner dan berkombinasi dengan variabel lain yang tidak stasioner dan berkombinasi dengan variabel

7)Bab V. Hasil dan Pembahasan
Bab ini menjelaskan pembahasan mengenai serangkaian tahapan pengujian dalam analisis data. Pada tahap pertama dilakukan pengujian terhadap variabel yang digunakan dalam model analisis mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur tingkat suku bunga dan nilai tukar ini. Pengujian awal variabel dilakukan dengan menggunakan uji akar unit (unit root test) menggunakan metode uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) dan identifikasi jenis tren. Selanjutnya adalah membuat persamaan VAR yang terdiri dari dua persamaan guna menentukan ordo VAR yang optimal dan dilanjutkan dengan uji kointegrasi menggunakan metode Johansen. Tahap terakhir adalah melakukan estimasi-estimasi yang menyertai metode VAR dan VECM, yaitu uji kausalitas, fungsi respon terhadap shock (IMPuls Response Function/ IRF), dan dekomposisi varian ( forecast Error Variance Decomposition / FEVD).

Pembahasan secara umum sudah sesuai dengan teori ekonomi. Pada pengujian awal, setelah dilakukan plot data oleh penulis, ternyata didapatkan bahwa semua variabel belum stasioner pada level. Terlihat variabel seperti investasi domestik, impor, produk domestik bruto dan indek harga konsumen membwentuk sebuah trend yang positif. Tingkat suku bunga SBI 1 bulan, tingkat bunga deposito dan tingkat bunga investasi terlihat tidak memiliki trend seperti variabel lain.

Berdasarkan hasil uji statistik Augmented Dickey Fuller (ADF) yang mencakup intersep dan trend, dapat dilihat bahwa semua variabel nilai ADF-nya lebih besar dari nilai kritis MacKinnon dengan derajat keyakinan 5 persen, artinya variabel yang diuji mengandung akar unit pada tingkat level tidak dapat ditolak. Oleh karena itu perlu dilakuakan dilanjutkan uji stasioneritas pada drajat difference atau uji derajat integrasi sampai semua variabel yang diamati stasioner pada drajat yang sama. Hasilnya pada taraf first difference variabel-variabel tersebut sudah tidak mengandung masalah akar.

Dalam pembahasan dijabarkan bahwa sebelum melakukan uji kointegrasi, terlebih dahulu dilakukan pemilihan panjang lag. Pemilihan panjang lag penting karena bisa mempengaruhi penerimaan dan penolakan hipotesis nol, yang mengakibatkan bias estimasi. Berdasarkan kriteria Shwarz information criterion menunjukan lag yang optimal adalah persamaan VARdengan ordo 3. Hasil uji ordo VAR pada persamaan jalur nilai tukar juga menunjukan bahwa lag optimal terdapat pada persamaan VAR dengan ordo 3.

Pengujian kointegrasi dilakukan pada lag optimal. yang dilakukan adalah uji kointegrasi Johansen untuk jalur suku bunga, dimana uji ini menunjukkan bahwa terdapat tiga persamaan kointegrasi yang dinyatakan dengan nilai trace statistik yang lebih besar dari angka kritis 5 persen. Sedangkan untuk jalur nilai tukar, hasil uji kointegrasi Johansen menunjukan terdapat dua persamaan kointegrasi yang dinyatakan dengan nilai trace statistik yang lebih dari angka kritis 5 persen. Pengujian stasioner data dan kointegrasi ini juga sangat penting jika dikaitkan dengan alat analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini. Setelah diketahui bahwa data tidak stasioner namun berkointegrasi, maka model VAR yang akan digunakan selanjutnya adalah VECM, karena jika data yyang digunakan tidak stasioner dan masih menggunakan VAR, maka estimasi yang dihasilkan memang konsisten tapi bias (tidak efisien).

Setelah melakukan penaksiran model kointegrasi pada sistem permodelan VAR, selanjutnya dilakukan penaksiran model VECM. Berdasarkan hasil penaksiran VECM, dilihat dari goodness of fit dari masing-masing model persamaan terlihat bahwa variabel tingkat suku bunga SBI memiliki nilai R2 yang tertinggi diikuti leh tingkat suku bunga deposito, tingkat inflasi/indek harga konsumen, tingkat investasi dan tingkat bunga investasi . Sedangkan R2 terendah adalah GDP yaitu 0.223.
Berdasarkan hasil penaksiran VECM, dilihat dari goodness of fit dari masing-masing model persamaan terlihat bahwa variabel tingkat suku bunga SBI memiliki nilai R2 yang tertinggi diikuti tingkat suku bunga SBI, impor dan GDP, masing-masing adalah 0.717878, 0.688274, 0.229240 dan 0.188940. sedangkan nilai R2 terendah adalah nilai tukar rupiah yaitu 0.159.

Pembahasan mekanisme transmisi moneter melalui Jalur suku Bunga dan melalui jalur nilai tukar menjelaskan bahwa tingkat output (GDP) dengan nilai tukar memiliki hubungan yang searah. Jika terjadi peningkatan nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar 1 persen akan terjadi peningkatan output sebesar 0.8 persen. Hal ini dikarenakan peningkatan nilai tukar menyebabkan nilai barang domestik menjadi relatif lebih murah dibandingkan dengan barang di luar negeri sehingga barang-barang yang diekspor akan lebih banyak dibandingkan melakukan impor barang (peningkatan net ekspor). Net ekspor merupakan salah satu komponen tingkat output sehingga peningkatan net ekspor akan meningkatkan GDP.

Dalam bab ini pun di sisipkan ringkasan hasil pembahasan yang mempermudah pembaca untuk mengetahui dengan singkat dan jelas terkait hasil penelitian tesis ini.
8)Bab VIII Kesimpulan dan Saran.
Pada kesimpulan dan saran penulis sudah memberikan kesimpulan yang sesuai dengan tujuan dan rumusan masalah. Ada empat poin kesimpulan yang menjawab permasalahan yang tertera di bab pendahuluan dan 3 saran terkait dengan keterbatasan pada penelitian yang menjadi bahan evaluasi penelitian selanjutnya.
Namun ada implikasi kebijakan pada subbab kesimpulan dan saran, seharusnya implikasi kebijakan menjadi Bab tersendiri, mengingat implikasi kebijakan merupakan hal penting dalam hasil suatu analisis sebagai sumbangsih penulis terhadap pemerintah.

9)Daftar Pustaka
Terdapat 49 literatur yang ditulis sebagai sumber referensi penulis dalam daftar pustaka. Literatur yang relatif banyak membantu penulis membahas penelitian secara komprehensif. Daftar pustaka sudah ditulis berdasarkan alfabet. Terdapat beberapa sumber literatur dalam disertasi yang tidak ditulis dalam daftar pustaka. Penulisan daftar pustaka masih tidak sesuai dengan aturan penulisan daftar pustaka disertasi, seperti : judul literatur yang tidak ditulis secara cetak miring, beberapa literatur tidak disertakan kota penerbitnya.
Literatur yang banyak membuat pembaca kebingungan dalam mengidentifikasi, apakah literatur ini berbentuk buku, jurnal ataukah website. Ditemukan dibeberapa tesis atau disertasi penulisnya memisahakan literatur buku dan jurnal/tesis/disertasi, sehingga memudahkan pembacanya.

10)Lampiran
Lampiran terdiri dari 7 lampiran. Lampiran 1 mengenai variable dan data dalam model. Pada lampiran 2 dan 3 ditampilkan blue print uji akar unit. Untuk lampiran 4-7 penuli memaparkan dengan terperinci hasil dari analisis VECM dan hasil dekomposisi pada jalur suku bunga dan jalur nilai tukar.

KESIMPULAN ULASAN TESIS

1.Tesis Ahmad Basith (2007) sudah ditulis secara sitematis, sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami alur penelitian.
2.Konsistensi dalam pembahasan dalam tesis sudah dapat dipenuhi dengan baik, tetapi konsistensi dalam penulisan masih terdapat banyak kesalahan.
3.Penulis dapat dengan baik menjabarkan substansi dari penelitian yang dilakukan. Hal ini memberi informasi yang komprehensif terhadap pembaca, meskipun masih terdapat beberapa kekurangan yaitu masih banyak informasi yang tidak disampaikan penulis padahal informasi tersebut sangat berguna bagi pembaca.

SARAN ULASAN TESIS

1.Sistematika penulisan karya ilmiah, dalam hal ini tesis harus sesuai dengan aturan yang berlaku pada institusi yang bersangkutan, seperti yang sudah dilakukan oleh Ahmad Basith (2007).
2.Penulisan tesis harus dilakukan dengan sangat teliti, agar tidak terjadi banyak kesalahan penulisan. Hal ini perlu diperhatikan agar sesuai dengan metode penulisan karya ilmiah dan tidak mengganggu pembaca dalam memahami isi karya ilmiah.
3. Lebih baik jika menyertakan informasi-informasi penting dari fakta dan studi empiris terdahulu dalam memperkuat justifikasi hasil analisis. Hal ini dapat memberikan pengetahuan yang komprehensif dan bermanfaat bagi pembaca.

kanti rahmillah
tugas ulasan ekonometrika (prof Bonar Sinaga)
tesis bisa di down load di http://repository.ipb.ac.id/